Kamis, Mei 02, 2013

ada apa dengan pernikahan?

Kali ini saya ingin menulis tentang pernikahan.
Ada apa dengan pernikahan sehingga banyak orang yang sering mengeluh atas banyaknya masalah rumah tangga mereka, bahkan harus menyerahkan masalah rumah tangganya di pengadilan?
Ada apa dengan pernikahan sehingga menjalaninya terasa begitu pelik dan melelahkan?
Sama saja bagi orang yang memulainya dengan cinta yang berkobar-kobar ataupun bagi orang yang memulainya dengan tidak saling mengenal, tetap saja mereka pada akhirnya akan menjadi orang asing satu sama lain (jika tidak ada ikhtiar maksimal untuk terus menjaga komitmen).
Lalu mengapakah orang memilih untuk menikah? Sejak jaman Nabi Adam hingga kini, menikah adalah pilihan yang utama dan masuk akal untuk menyalurkan hasrat kasih sayang dan hasrat seksual dari makhluk yang bernama manusia. Namun dalam pernikahan pula terjadi banyak penghancuran, kekerasan, masalah, tangisan dan kebukurukan lainnya. Tapi mengapa orang tetap memilih untuk menikah? Pertanyaan ini terasa berputar-putar dikepala saya, terlebih jika sedang terjadi perselisihan dengan suami atau mendengar keluhan teman seputar masalah pernikahan.
Jika merujuk pada ajaran Islam, pernikahan termasuk perkara yang disunnahkan. Artinya, menempuh jalan menikah, adalah lebih baik ketimbang hidup menyendiri. Hal ini bertujuan (sepemahaman saya) untuk lebih menjaga diri, agar tidak jatuh pada perbuatan zina dan pergaulan bebas.
Nah.....jika Manusia agung seperti Nabi Muhammad mengatakan bahwa menikah adalah pilihan yang lebih baik, mestinya didalamnya, kita bisa menjadi lebih tenteram. Lalu mengapa yang terjadi malah sebaliknya, hingga statistik mengatakan bahwa angka perceraian diIndonesia meningkat sebanyak 70% dan bahwa tiga dari sepuluh pernikahan berakhir dengan perceraian?
Buat saya, anomali ini hanya bisa dijawab dengan mengembalikannya kepada Sang Pengatur Kehidupan. ALLAH sudah mengatakan bahwa orang yang baik akan mendapatkan orang yang baik pula. Semuanya diukur menurut kepantasan. Jadi jika pasangan kita terasa tidak baik buat kita, artinya kita sudah harus membunyikan alarm "introspeksi" dikepala kita bahwa mungkin kita belum menjadi orang yang lebih baik, sehingga Allah pun membiarkan pasangan kita berlaku sama dengan kita. ALLAH juga telah memberikan tuntunan bahwa pasangan kita adalah pakaian bagi kita. Ini berarti bahwa sebenarnya kita dan pasangan harus saling menutupi aib masing - masing dan saling memperindah satu sama lain. Jika belum berlaku seperti ini, barangkali kita sudah harus lebih banyak belajar lagi.
Hal lainnya adalah bahwa ALLAH telah menuntun untuk menjadikan Sholat dan sabar sebagai penolong. Buat saya, ini menjadi semacam "jimat" yang saya pegang jika konflik rumah tangga menerpa. Kepada ALLAH semua saya kembalikan. Lewat sholat, saya haturkan doa untuk kebaikan, dan lewat sabar, saya luaskan hati untuk menerima segala persoalan hidup. Toh semua kejadian terjadi atas ijin ALLAH. Jadi ALLAH telah menghitung dengan presisi, bahwa kita mampu menghadapinya. Tinggal lagi mencari makna disetiap kejadian.
Wallahu A'lam Bishawab.
(tulisan ini dibuat untuk seorang sahabat)






 

Tidak ada komentar: