Kali
ini saya ingin menulis tentang pernikahan.
Ada
apa dengan pernikahan sehingga banyak orang yang sering mengeluh atas banyaknya
masalah rumah tangga mereka, bahkan harus menyerahkan masalah rumah tangganya
di pengadilan?
Ada
apa dengan pernikahan sehingga menjalaninya terasa begitu pelik dan melelahkan?
Sama
saja bagi orang yang memulainya dengan cinta yang berkobar-kobar ataupun bagi
orang yang memulainya dengan tidak saling mengenal, tetap saja mereka pada
akhirnya akan menjadi orang asing satu sama lain (jika tidak ada ikhtiar
maksimal untuk terus menjaga komitmen).
Lalu
mengapakah orang memilih untuk menikah? Sejak jaman Nabi Adam hingga kini,
menikah adalah pilihan yang utama dan masuk akal untuk menyalurkan hasrat kasih
sayang dan hasrat seksual dari makhluk yang bernama manusia. Namun dalam
pernikahan pula terjadi banyak penghancuran, kekerasan, masalah, tangisan dan
kebukurukan lainnya. Tapi mengapa orang tetap memilih untuk menikah? Pertanyaan
ini terasa berputar-putar dikepala saya, terlebih jika sedang terjadi
perselisihan dengan suami atau mendengar keluhan teman seputar masalah
pernikahan.
Jika
merujuk pada ajaran Islam, pernikahan termasuk perkara yang disunnahkan.
Artinya, menempuh jalan menikah, adalah lebih baik ketimbang hidup menyendiri.
Hal ini bertujuan (sepemahaman saya) untuk lebih menjaga diri, agar tidak jatuh
pada perbuatan zina dan pergaulan bebas.
Nah.....jika
Manusia agung seperti Nabi Muhammad mengatakan bahwa menikah adalah pilihan
yang lebih baik, mestinya didalamnya, kita bisa menjadi lebih tenteram. Lalu
mengapa yang terjadi malah sebaliknya, hingga statistik mengatakan bahwa angka
perceraian diIndonesia meningkat sebanyak 70% dan bahwa tiga dari sepuluh
pernikahan berakhir dengan perceraian?
Buat
saya, anomali ini hanya bisa dijawab dengan mengembalikannya kepada Sang
Pengatur Kehidupan. ALLAH sudah mengatakan bahwa orang yang baik akan
mendapatkan orang yang baik pula. Semuanya diukur menurut kepantasan. Jadi jika
pasangan kita terasa tidak baik buat kita, artinya kita sudah harus membunyikan
alarm "introspeksi" dikepala kita bahwa mungkin kita belum menjadi
orang yang lebih baik, sehingga Allah pun membiarkan pasangan kita berlaku sama
dengan kita. ALLAH juga telah memberikan tuntunan bahwa pasangan kita adalah
pakaian bagi kita. Ini berarti bahwa sebenarnya kita dan pasangan harus saling
menutupi aib masing - masing dan saling memperindah satu sama lain. Jika belum
berlaku seperti ini, barangkali kita sudah harus lebih banyak belajar lagi.
Hal
lainnya adalah bahwa ALLAH telah menuntun untuk menjadikan Sholat dan sabar
sebagai penolong. Buat saya, ini menjadi semacam "jimat" yang saya
pegang jika konflik rumah tangga menerpa. Kepada ALLAH semua saya kembalikan.
Lewat sholat, saya haturkan doa untuk kebaikan, dan lewat sabar, saya luaskan
hati untuk menerima segala persoalan hidup. Toh semua kejadian terjadi atas
ijin ALLAH. Jadi ALLAH telah menghitung dengan presisi, bahwa kita mampu
menghadapinya. Tinggal lagi mencari makna disetiap kejadian.
Wallahu
A'lam Bishawab.
(tulisan
ini dibuat untuk seorang sahabat)