Kali ini saya pengen nulis tentang dunia perfilman kita cie..............
Saya tertarik memperhatikan antusiasme masyarakat yang begitu tinggi terhadap film AAC yang diangkat dari Novel Habiburrahman itu. Saya sendiri menganggap bahwa film itu telah menghianati novelnya karena begitu bertolak belakang, but anyway.......... saya tidak mau berdebat soal itu. Yang menarik adalah begitu tingginya jumlah penonton yang menyaksikan film ini. Untuk saya hal itu telah membuktikan satu hal yaitu : bahwa masyarakat kita rindu akan hiburan yang positif, inspiratif, elegan dan berkelas, akan tetapi selama ini mereka tidak punya pilihan akan hal itu. Masyarakat kita barangkali sudah capek disuguhi tontonan yang tidak jauh dari hal - hal mesum dan mistik yang diberikan oleh para kapitalis industri hiburan yang mengeksploitasi orang - orang yang lemah akal. Untuk itu kemunculan film - film positif seperti AAC dan yang terbaru Kun Fayakun patut kita apresiasi dengan baik.
TAPI.......... hal ini memunculkan pertanyaan buat saya, yaitu apakah tingginya antusiasme masyarakat terhadap film - film "religi" ini berbanding lurus dengan perubahan moral masyarakat kita? Jangan - jangan ini hanya menjadi semacam trend baru (sesuai dengan budaya latahnya Indonesia) yang kemudian tidak memberikan bekas apa – apa pada masyarakat kita. Seperti juga trend melakukan umroh dikalangan artis tetapi tetap saja “mereka” tidak bisa memberikan contoh yang baik untuk masyarakat. Jangan – jangan ini hanya menjadi hiburan dan pelarian atas banyaknya masalah yang terjadi di negeri ini, cie…….
Tetapi optimis haruslah senantiasa kita kedepankan. Semoga saja akan semakin banyak kita temukan hiburan – hiburan positif yang inspiratif yang bisa turut membawa perubahan pada bangsa ini.
Saya tertarik memperhatikan antusiasme masyarakat yang begitu tinggi terhadap film AAC yang diangkat dari Novel Habiburrahman itu. Saya sendiri menganggap bahwa film itu telah menghianati novelnya karena begitu bertolak belakang, but anyway.......... saya tidak mau berdebat soal itu. Yang menarik adalah begitu tingginya jumlah penonton yang menyaksikan film ini. Untuk saya hal itu telah membuktikan satu hal yaitu : bahwa masyarakat kita rindu akan hiburan yang positif, inspiratif, elegan dan berkelas, akan tetapi selama ini mereka tidak punya pilihan akan hal itu. Masyarakat kita barangkali sudah capek disuguhi tontonan yang tidak jauh dari hal - hal mesum dan mistik yang diberikan oleh para kapitalis industri hiburan yang mengeksploitasi orang - orang yang lemah akal. Untuk itu kemunculan film - film positif seperti AAC dan yang terbaru Kun Fayakun patut kita apresiasi dengan baik.
TAPI.......... hal ini memunculkan pertanyaan buat saya, yaitu apakah tingginya antusiasme masyarakat terhadap film - film "religi" ini berbanding lurus dengan perubahan moral masyarakat kita? Jangan - jangan ini hanya menjadi semacam trend baru (sesuai dengan budaya latahnya Indonesia) yang kemudian tidak memberikan bekas apa – apa pada masyarakat kita. Seperti juga trend melakukan umroh dikalangan artis tetapi tetap saja “mereka” tidak bisa memberikan contoh yang baik untuk masyarakat. Jangan – jangan ini hanya menjadi hiburan dan pelarian atas banyaknya masalah yang terjadi di negeri ini, cie…….
Tetapi optimis haruslah senantiasa kita kedepankan. Semoga saja akan semakin banyak kita temukan hiburan – hiburan positif yang inspiratif yang bisa turut membawa perubahan pada bangsa ini.