Kamis, Februari 28, 2008
I'm clueless
Selasa, Februari 26, 2008
Reposting
ordinary bad day
Jumat, Februari 22, 2008
MEMBACA HIKMAH DARI TAKDIR ALLAH
Apa yang saya pengen tulis ini sebenarnya sudah ada dibenak saya sejak beberapa hari lalu tapi baru bisa nulis hari ini.
Tersebutlah seorang siswa magang di LPMP Gorontalo yang "berbeda". Namanya "Muhajir" dengan panggilan "ajir". Saya sebut dia "berbeda" karena memang berbeda di beberapa hal dari orang lain. Pertama dia berbeda karena dia cacat (saya tidak tahu cacat apa namanya). Ketidaksempurnaannya ada pada cara dia berjalan dan berbicara. Tetapi sepertinya keterbatasannya tersebut tidak menghalangi dia untuk "berbuat", sama seperti kebanyakan orang. Kedua, dia berbeda dari mainstream orang Gorontalo pada umumnya yang menurut saya enggan berbuat (kalo tidak bisa disebut malas). Sangat menarik menelusuri kisah hidup anak ini. Menurut cerita ajir sendiri, ibunya meninggal dunia ketika dia baru berusia beberapa bulan. "Keterbatasannya" adalah takdir yang harus dia terima sejak lahir. Setelah ibunya meninggal, dia diasuh oleh seorang anak yang berusia 10 thn (kalo saya tidak salah). Nah..... yang menarik adalah soal keinginannya untuk sekolah. Dia tetap sekolah seperti kebanyakan anak lainnya, tetapi ketika menginjak masa SMA, bapaknya melarang dia untuk tetap sekolah, (saya juga tidak tahu alasannya apa, tapi sangat mungkin larangan itu ada hubungannya dengan "keterbatasannya"). Sementara untuk masuk SLB "Bone Bolango" tidak mungkin karena dia satu - satunya siswa yang mendaftar. Akhirnya dia memilih untuk masuk SMK Suwawa walaupun tanpa ijin bapaknya. Dia berusaha untuk bertemu langsung dengan kepsek untuk meyakinkan bahwa dia benar - benar ingin sekolah dan berharap dapat diterima. Akhirnya dia diterima di SMK Suwawa. Sampai disini, saya benar - benar takjub mendengar ceritanya. Bagaimana tidak, disaat sebagian murid sekolahan yang tidak jelas juntrungannya, sering bolos, tawuran, hedon luar biasa, ajir, dengan kesederhanaanya mampu menyakinkan orang bahwa keinginannya untuk belajar sangat kuat, dan tidak satupun orang yang berhak mengehentikan hal itu.
Syahdan.... ajir memilih jurusan komputer. Menurut dia, komputer sangat menarik minatnya. Maka besar keinginan dia untuk punya PC. Untuk mendapatkan keingginannya, ajir membuat proposal untuk Pak Gubernur (Pak Fadel), yang berisi permintaan bantuan dana untuk membeli komputer. Dia memaksa untuk bertemu langsung dengan Pak Gub dan akhirnya bisa bertemu langsung dengan Pak Fadel. Waktu ditanya apa keperluannya, ajir dengan polos menjawab "pengen punya komputer", maka mengalirlah cek sebesar Rp. 5 juta dan langsung dia pergunakan untuk membeli "barang idamannya" itu. Waktu itu saya dengan maksud bercanda, bertanya "kenapa tidak sekalian minta HP?", dan dia bilang bahwa HP tidak terlalu penting untuk dia. Satu - satunya barang yang dia inginkan hanya PC.
Satu lagi hal menarik tentang ajir, yaitu keinginannya untuk membuka usaha. Waktu saya tanya apa rencananya setelah lulus, dia jawab "kalo bukan melanjutkan ke kuliah, saya mau buka usaha sendiri". Saya tanya lagi "usaha apa?", dia jawab, "usaha pengetikan/rental komputer". Dia tambahkan penjelasannya bahwa usaha itu pengennya dia jalankan bersama adiknya, dan langkah pertama menurut dia adalah mencari tempat yang bagus. Amazing.................................
Sodara2 saya saja belum tentu punya visi masa depan sejelas itu. Buat saya bukan masalah apa dan bagaimana visinya. Pun terlepas dari benar tidaknya cerita dan kompetensi ajir, ada hal yang sangat menarik tentang bagaimana gambalangnya rencana masa depannya yang dia rancang sendiri, kuatnya tekad untuk mandiri, tidak bergantung pada orang lain, dan tetap menjaga mimpi – mimpinya agar dia bisa punya energi untuk menggapainya. Apalagi kita bicara tentang orang yang punya “keterbatasan”. Satu lagi yang menarik, tidak semua orang punya keinginan untuk berusaha lewat jalan “entrepreneurship”. Tapi ajir justru memilih hal itu untuk masa depannya nanti. Masya Allah…………….
Allah memang maha adil. KeadilanNya tidak pantas untuk dipertanyakan. Semua yang telah tertulis dalam lauhul mahfuz adalah presisi adanya, baik untuk semua hambaNya. Keterbatasan yang dimiliki ajir, dimata saya justru menjadi kekuatannya. Jalan hidup, keinginan serta cita – citanya akan terdengar biasa – biasa saja jika datangnya dari orang lain yang normal – normal saja. Tetapi menjadi sungguh luar biasa ketika datangnya dari seorang ”ajir” yang punya banyak ”keterbatasan”. Semoga kita bisa mengambil banyak pelajaran dari salah satu karya Allah SWT ini.
WALLAHU A’LAM
Senin, Februari 18, 2008
Hari ini sebagian staf LPMP Gorontalo pindahan termasuk saya. Jadinya sibuk bersih - bersih. Ngga' tau mesti senang atau tidak, dapat gedung baru, meja dan kursi baru, dan semua fasilitas yang brand new. Tapi...........apapun itu, disyukuri sajalah. Hari ini juga hari yang berat buat saya, cause my beloved husband berangkat lagi untuk memulai semester 2 kuliah s2nya. I've already missed you honey.........take care........
Jumat, Februari 15, 2008
Sekolah Bertaraf Internasional
Seksi PMS dan FSDP LPMP Gorontalo tahun ini punya program kerja seputar Sekolah Bertaraf Internasional atau yang sering disingkat SBI. Program Dinas Pendidikan Nasional ini sedang bergaung dimana – mana. Program ini memang masih menggunakan embel – embel “rintisan didepannya”, tetapi pemerintah terlihat serius menggarapnya (atau serius menghitung jumlah yang bisa dikorupsi?) sampai - sampai menyediakan anggaran yang cukup besar yang dikucurkan untuk dana BlockGrant SBI. Tetapi apa dan bagaimana SBI itu sebenarnya justru tidak banyak diketahui. Sesungguhnya kategori sekolah bisa dibagi menjadi :
- SEKOLAH KATEGORI STANDAR
- SEKOLAH KATEGORI MANDIRI
- SEKOLAH BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL
- SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL
- SEKOLAH YG DISELENGGARAKAN OLEH PERWAKILAN NEGARA ASING
- LEMBAGA PENDIDIKAN ASING DI NKRI
Adapun, kriteria sekolah yang bisa mendapatkan predikat sebagai SBI haruslah sekolah yang memilik basis IT yang kuat serta menerapkan sistem bilingual dalam proses belajar mengajar, disamping memiliki sarana dan prasarana yang sesuai standar. Ada 8 standar yang harus dipenuhi yang mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. Sederhananya, untuk mendapatkan predikat SBI, maka KBM diajarkan dalam bahasa inggris sehingga baik siswa maupun guru harus memiliki kompetensi dalam berbahasa inggris. Maka sertifikat TOEFL dengan nilai tertentu bagi para guru kini menjadi prasyarat. Disamping itu basic IT yang juga menjadi prasyarat, seperti penggunaan electronic media sebagai alat bantu pengajaran dan pembuatan materi pengajaran dalam satu atau lebih format elektronik media. Lulusan yang diharapkan dari sebuah sekolah bertaraf internasional adalah lulusan yang dapat bersaing baik secara nasional maupun secara internasional.
Maka...............banyak konsekuensi yang timbul dari adanya standar2 tersebut. Salah satunya adalah biaya sekolah di SBI yang tentunya lebih mahal daripada di sekolah reguler. Impact lainnya adalah standar masuk yang lebih tinggi dibanding dengan sekolah reguler. Ujung – ujungnya, SBI menjadi semacam sekolah eksklusif yang tidak bisa menyentuh semua lapisan masyarakat.
Akan tetapi ada hal – hal lain yang perlu dikaji dan dipertimbangkan lagi dalam penerapan program SBI ini. Masalah yang banyak dihadapi oleh para guru di SBI adalah penguasaan bahasa Inggris. Banyak guru yang sangat kompeten dalam bidangnya terutama science, tetapi kesulitan dalam berbahasa Inggris. Pertanyaan pertama adalah manakah yang lebih baik, membekali para guru science tersebut dengan bahasa Inggris, atau membekali guru – guru yang berbahasa Inggris secara aktif dengan ilmu – ilmu science? Tentu saja yang ideal adalah guru science yang berbahasa Inggris secara aktif, tetapi ini sulit didapat. Lebih dari itu perlu dipertanyakan pula apakah efektif untuk para siswa mempelajari science dalam pengantar bahasa Inggris ketimbang bahasa ibunya? Bukankah untuk bisa bersaing secara internasional kualitas akan kompetensi kita lebih dibutuhkan ketimbang penggunaan bahasa? Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional memang sangat penting untuk mempercepat kemajuan kita dan bisa leluasa dalam menembus dunia kini yang seakan tanpa batas. Akan tetapi bahasa hanyalah penunjang yang akan melengkapi semua kompetensi yang kita miliki. Tidakkah mata pelajaran bahasa Inggris cukup untuk anak didik untuk menguasai bahasa Inggris? Barangkali hal yang perlu ditinjau kembali adalah kurikulum pelajaran bahasa Inggris kita yang tidak bisa memaksimalkan kemampuan anak didik dalam berbahasa Inggris secara aktif. Jangan sampai semua terkesan dipaksa hanya untuk mencapai keinginan untuk meng ”go internasional” kan sekolah – sekolah kita agar lulusannya bisa terterima di perguruan tinggi negeri maupun luar negeri. Pertanyaan kedua adalah berapa persen dari lulusan SMU kita yang akan melanjutkan sekolahnya keperguruan tinggi luar negeri? Untuk daerah Jakarta, mungkin bisa dihitung, tapi bagaiman dengan luar Jakarta?, bisakah dihitung dengan jari? Lagipula apakah perguruan tinggi kita belum layak?
Lalu tidakkah program SBI bisa memicu kesenjangan antar sekolah? Pemerintah tentu akan meng”anak emas”kan SBI dibanding sekolah – sekolah reguler. Hal ini menjadi semacam privatisasi sekolah negeri. Tidakkah dana yang begitu banyak dikucurkan untuk ”beberapa” SBI, akan lebih efektif digunakan secara merata untuk semua sekolah terutama untuk sekolah – sekolah dipedalaman? Masih banyak sekolah – sekolah yang jangankan menggunakan IT, untuk mengaplikasikan komputer saja mereka tidak mampu. Masih banyak sekolah – sekolah yang jangankan memiliki sapras yang lengkap, gedung sekolahpun tidak layak disebut sekolah. Lebih menyedihkan lagi, banyak sekolah yang jangankan mengharapkan guru dengan sertifikat TOEFL memadai, jumlah gurupun tidak mencukupi dibanding jumlah siswanya.
Ada baiknya mungkin program ini dipikirkan kembali secara bijak.
Rabu, Februari 13, 2008
finally i'm home
Minggu, Februari 03, 2008
Pengen Lagi
Tapi keinginan untuk nulis ini begitu kuat setelah membaca buku tetralogi Laskar Pelanginya Andrea Hirata. Buku ini begitu mempesona dengan permainan kata - katanya, begitu menyentuh dengan kisah tragisnya, begitu inspiratif dengan kekuatan cerita dan penokohannya serta pesan - pesan moralnya. Buku ini bagai oase ditengah kegersangan mentalitas masyarakat pendidikan terhadap berbagai permasalahan pendidikan. Bahwa ternyata kegetiran hidup bukan untuk ditangisi dan dikeluhkan dengan khusuknya dan kemudian dijadikan alasan untuk tidak berbuat dengan bersembunyi dibalik romansa cerita "hidup melarat" yang terus menerus disenandungkan. Bahwa ternyata kemiskinan dan kemelaratan tidak harus berbanding lurus dengan kebodohan, keterbelakangan dan sikap pesimis. Saya pikir buku ini layak menjadi "the must read book" bagi "masyarakat pendidikan" terutama bagi petinggi - petinggi di Depdiknas, Pegawai dan staf Diknas Daerah dan terutama bagi seluruh staf dan pegawai LPMP se Indonesia. Betapa tidak, setelah membaca buku ini saya kembali mempertanyakan komitmen saya terhadap pekerjaan saya (di LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN) yang seharusnya sangat mulia ini. Saya pikir saya harus banyak belajar dari tokoh Ibu Muslimah yang ada dalam novel tersebut yang begitu ikhlas menjalani profesinya sebagai guru didesa terpencil tanpa digaji bertahun - tahun, sedangkan saya begitu jengkel ketika harus turun lapangan ke daerah dengan hanya mendapat honor yang kecil, itupun hanya untuk menyebarkan instrumen keguru - guru. Ibu Muslimah dan kesepuluh anggota laskar pelangi layak untuk dijadikan cermin terhadap sikap kerja kita yang kadang - kadang sudah seperti kata pepatah "mati segan, hidup tak mau".
Ternyata jika kita menjalani hidup dengan cinta, cinta terhadap sang Khalik, cinta terhadap sesama dan cinta terhadap kebaikan, kita akan mampu menjalani hidup yang optimis, hidup yang idealis dan mampu konsisten dengan idealisme tersebut, hidup yang bermanfaat untuk orang lain dan pada akhirnya akan menjadikan kita manusia seutuhnya yang memiliki integritas dan kualitas yang tinggi, dan bukan manusia yang hanya memiliki uang dan kedudukan yang tinggi (dua hal yang sangat temporer dalam hidup).
Haahhh masih pengen nulis tapi ngantuk..
Well .........see you
pengen saja
soalnya 10 hari kemaren (dijakarta dan bandung) ngga pernah sempat untuk posting, maklumlah.....lagi menikmati bulan madu kesekian kalinya dengan suami tercinta :-)
Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, tujuan saya membuat blog ini semata - mata untuk berbagi segala ide, prinsip, idealisme, uneg- uneg, pertanyaan dan semua pikiran - pikiran saya dengan orang lain, terutama dengan teman - teman saya di LPMP Gorontalo.
Besar harapan saya blog saya ini akan diapresiasi oleh teman - teman LPMP Gorontalo sebagai sebuah media yang mudah - mudahan bisa menginspirasi, mengalihkan sejenak kekalutan pikiran dari masalah dan gosip - gosip kantor.
Selamat membaca