Hari ini saya begitu bersemangat untuk nulis meskipun saya ragu apa ada nanti yang baca tulisan saya ini..........
Tapi keinginan untuk nulis ini begitu kuat setelah membaca buku tetralogi Laskar Pelanginya Andrea Hirata. Buku ini begitu mempesona dengan permainan kata - katanya, begitu menyentuh dengan kisah tragisnya, begitu inspiratif dengan kekuatan cerita dan penokohannya serta pesan - pesan moralnya. Buku ini bagai oase ditengah kegersangan mentalitas masyarakat pendidikan terhadap berbagai permasalahan pendidikan. Bahwa ternyata kegetiran hidup bukan untuk ditangisi dan dikeluhkan dengan khusuknya dan kemudian dijadikan alasan untuk tidak berbuat dengan bersembunyi dibalik romansa cerita "hidup melarat" yang terus menerus disenandungkan. Bahwa ternyata kemiskinan dan kemelaratan tidak harus berbanding lurus dengan kebodohan, keterbelakangan dan sikap pesimis. Saya pikir buku ini layak menjadi "the must read book" bagi "masyarakat pendidikan" terutama bagi petinggi - petinggi di Depdiknas, Pegawai dan staf Diknas Daerah dan terutama bagi seluruh staf dan pegawai LPMP se Indonesia. Betapa tidak, setelah membaca buku ini saya kembali mempertanyakan komitmen saya terhadap pekerjaan saya (di LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN) yang seharusnya sangat mulia ini. Saya pikir saya harus banyak belajar dari tokoh Ibu Muslimah yang ada dalam novel tersebut yang begitu ikhlas menjalani profesinya sebagai guru didesa terpencil tanpa digaji bertahun - tahun, sedangkan saya begitu jengkel ketika harus turun lapangan ke daerah dengan hanya mendapat honor yang kecil, itupun hanya untuk menyebarkan instrumen keguru - guru. Ibu Muslimah dan kesepuluh anggota laskar pelangi layak untuk dijadikan cermin terhadap sikap kerja kita yang kadang - kadang sudah seperti kata pepatah "mati segan, hidup tak mau".
Ternyata jika kita menjalani hidup dengan cinta, cinta terhadap sang Khalik, cinta terhadap sesama dan cinta terhadap kebaikan, kita akan mampu menjalani hidup yang optimis, hidup yang idealis dan mampu konsisten dengan idealisme tersebut, hidup yang bermanfaat untuk orang lain dan pada akhirnya akan menjadikan kita manusia seutuhnya yang memiliki integritas dan kualitas yang tinggi, dan bukan manusia yang hanya memiliki uang dan kedudukan yang tinggi (dua hal yang sangat temporer dalam hidup).
Haahhh masih pengen nulis tapi ngantuk..
Well .........see you
Tapi keinginan untuk nulis ini begitu kuat setelah membaca buku tetralogi Laskar Pelanginya Andrea Hirata. Buku ini begitu mempesona dengan permainan kata - katanya, begitu menyentuh dengan kisah tragisnya, begitu inspiratif dengan kekuatan cerita dan penokohannya serta pesan - pesan moralnya. Buku ini bagai oase ditengah kegersangan mentalitas masyarakat pendidikan terhadap berbagai permasalahan pendidikan. Bahwa ternyata kegetiran hidup bukan untuk ditangisi dan dikeluhkan dengan khusuknya dan kemudian dijadikan alasan untuk tidak berbuat dengan bersembunyi dibalik romansa cerita "hidup melarat" yang terus menerus disenandungkan. Bahwa ternyata kemiskinan dan kemelaratan tidak harus berbanding lurus dengan kebodohan, keterbelakangan dan sikap pesimis. Saya pikir buku ini layak menjadi "the must read book" bagi "masyarakat pendidikan" terutama bagi petinggi - petinggi di Depdiknas, Pegawai dan staf Diknas Daerah dan terutama bagi seluruh staf dan pegawai LPMP se Indonesia. Betapa tidak, setelah membaca buku ini saya kembali mempertanyakan komitmen saya terhadap pekerjaan saya (di LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN) yang seharusnya sangat mulia ini. Saya pikir saya harus banyak belajar dari tokoh Ibu Muslimah yang ada dalam novel tersebut yang begitu ikhlas menjalani profesinya sebagai guru didesa terpencil tanpa digaji bertahun - tahun, sedangkan saya begitu jengkel ketika harus turun lapangan ke daerah dengan hanya mendapat honor yang kecil, itupun hanya untuk menyebarkan instrumen keguru - guru. Ibu Muslimah dan kesepuluh anggota laskar pelangi layak untuk dijadikan cermin terhadap sikap kerja kita yang kadang - kadang sudah seperti kata pepatah "mati segan, hidup tak mau".
Ternyata jika kita menjalani hidup dengan cinta, cinta terhadap sang Khalik, cinta terhadap sesama dan cinta terhadap kebaikan, kita akan mampu menjalani hidup yang optimis, hidup yang idealis dan mampu konsisten dengan idealisme tersebut, hidup yang bermanfaat untuk orang lain dan pada akhirnya akan menjadikan kita manusia seutuhnya yang memiliki integritas dan kualitas yang tinggi, dan bukan manusia yang hanya memiliki uang dan kedudukan yang tinggi (dua hal yang sangat temporer dalam hidup).
Haahhh masih pengen nulis tapi ngantuk..
Well .........see you
0 komentar:
Poskan Komentar