Alhamdulillah, I’m here again, in my lovely hometown. Actually I’m kind of sad cause I’m away again from my husband. We’re separated again. But that’s ok… cause I’m fine and I think I can handle all those loneliness things………
Sejak berada di negeri Kanguru Australia, hingga kemarin seminggu di Bogor dan akhirnya sekarang di kantor, saya masih merasa sangat termotivasi untuk berbuat sesuatu, menyangkut pekerjaan saya, to make a positive different (even just small different). Tapi saya benar - benar bingung harus mulai dari mana. Karena kebingungan itulah maka saya putuskan saja untuk memulainya dari menulis lagi di blog ini, hitung - hitung come
Back setelah lama tidak posting.
saya mulai saja dengan rendezvous mengulang kembali masa - masa di australia, sambil ngeliat lagi foto - foto selama disana. Meskipun ada kejadian - kejadian yang membuat perasaan tidak nyaman karena selisih paham dll, but I think I miss all of my ALAF friends. Kebersamaan selama 7 minggu, somehow, telah merangkai berbagai kenangan yang pasti akan saya simpan dalam satu ruang khusus dalam memory saya (mudah - mudahan saya tidak akan lupa karena teman- teman memilih saya sebagai yang paling "pelupa")
he he he he
Dan akhirnya saya ingat tulisan saya waktu pertama kali nyampe di
Melbourne, here it is ……………………………….
Aussie diary
08.30Akhirnya setelah perjalanan yang sangat melelahkan selama ± 8 jam dari Jakarta, kami tiba juga di bandara Tullamarine Melbourne. It’s a desperate moment karena ini adalah pengalaman pertama saya ke Australia, so here I am Melbourne, just great to be here. Kami langsung disambut oleh cuaca yang sangat dingin (at least for me) dan antrian pemeriksaan yang sangat melelahkan. Selama ± 1,5 jam kami berdiri menunggu dalam barisan antrian untuk pemeriksaan barang. Orang – orang disini rupanya ramah juga meskipun ada juga yangmemandang saya dengan pandangan aneh (mungkin karena saya berjilbab). Petugas pemeriksa itu memanggil kami dengan sebutan sister dan brother dan mengucapkan ‘assalamualaikum’. Setelah itu kami langsung ke Quest apartment yang berada di 43 Londsdale St, dengan ‘Murray Bus’. Dan dimulailah aktifitas yang menandakan bahwa kami datang dari ‘kampung’, tapi tetap saja menyenangkan untuk dilakukan yakni FOTO – FOTO.
Dan sampailah kami di Quest Apartment dan langsung disambut oleh resepsionis yang bicara inggris tapi dengan aksen India (I think). Kami diberi kamar masing – masing satu tapi akhirnya saya sekamar berdua dengan mba Fathonah (LPMP Kalsel). Masing – masing kamar punya 1 master bed, lemari pakaian, Toilet, dapur dan ruang tamu. It’s lovely karena kamar saya langsung menghadap ke jalan Londsdale. Saya langsung masak indomie karena lapar euy.
16.30 Kami balik lagi ke apartemen. Saya langsung mencoba menemukan arah kiblat dengan google earth dan akhirnya…. Tudda………. Saya berhasil menemukan arah kiblat, dan langsung sholat. Setelah itu kami hanyalah orang – orang yang sangat kecapean dan langsung terkapar di tempat tidur masing – masing.
Malam ini saya baru saja abis nonton film dengan suami tercinta. Judul filmnyapun cukup menyeramkan SEX AND THE CITY. Yup….. kami baru saja menyaksikan versi layer lebar dari film seri HBO tentang kisah keempat gadis metropolitan dengan kisah cintanya masing – masing.
Ada keraguan sebenarnya ketika memutuskan untuk nonton film ini. Masalahnya saya sedang dalam masa “upgraiding ketakwaan” saya. Mulai dari memperbaiki sholat, memperbanyak zikir, memperbanyak sedekah, ikut dalam kelompok kajian dan memperbanyak membaca terutama membaca buku – buku islami. Yang terakhir ini banyak memberikan nilai dan muatan positif pada saya, terutama karena saat ini saya sedang menyelesaikan membaca bukunya ustadz Yusuf Mansur yang judulnya “WISATA HATI”. Buku ini banyak mengupas tentang makna hidup yang hakiki, hidup untuk saling berbagi, dan hidup untuk kehidupan selanjutnya yakni akhirat. Inilah alasan keraguan saya untuk nonton film Hollywood ini. Saya merasa melakukan hal yang sia – sia. Terlebih film tersebut banyak mengumbar hidup yang glamour, benar – benar mengiklankan kemewahan hidup, hidup yang berlebihan. Tapi keraguan saya ternyata kalah juga oleh keinginan saya untuk tahu jalan cerita film ini karena memang saya mengikuti film serinya. Akhirnya saya pulang dan berdoa “Ya Allah yang Maha Pengampun, ampuni saya jika ini termasuk perbuatan sia – sia. Kuatkanlah hamba untuk selalu istiqomah dijalanMu Ya Allah…….”
it's nice to post again. Akhirnya saya disini lagi(bogor), menemani suami tercinta. Senang bisa kembali kekota hujan ini lagi meskipun harus berdesak - desakan di kamar kost yang sempit. Dan yang lebih penting lagi saya mendaftar lagi untuk keliah di program pasca sarjana. Hmmm..... kembali kebangku kuliah. Terasa agak kikuk juga waktu masuk kampus lagi (meski hanya untuk mendaftar), apalagi ini adalah salah satu perguruan tinggi terbesar di negeri ini (IPB). Sudah enam tahun lepas dari perkuliahan, rasanya butuh penyesuaian lagi untuk masuk kampus lagi. Setidaknya persiapan mental karena kuliah S2 orientasinya ke tugas - tugas. So...... akan banyak tugas nantinya. Ya Allah........ mudahkanlah hambamu ini menjalani titian pencarian ilmu...... Amin.
Today is just ordinary day for me. Doing the same thing, thinking the same thing, boring, boring and boring. Tapi akhirnya saya mendapatkan inspirasi juga dari hasil percakapan dengan beberapa teman kantor. Seorang teman mencurahkan masalah keuangannya. Menurut dia, gaji perbulan yang dia terima, ditambah gaji istrinya, masih tidak cukup untuk kebutuhan sehari - hari. Itupun masih dalam kondisi dimana anak-anaknya masih kecil dan belum sekolah. Maka meluncurlah dari mulutnya rencana jangka panjang hidupnya kelak ketika anak - anaknya dewasa. Menurutnya, kita harus punya persiapan finansial yang cukup untuk kebutuhan anak - anak saat dewasa nanti. Mulai dari biaya sekolah, biaya menikah, biaya penunjang sebelum mereka mandiri, dll. Ada lagi teman lain yang punya masalah yang hampir sama. Ceritanya beliau punya anak yang sudah saatnya untuk kuliah, dan sianak punya obsesi untuk kuliah di fakultas kedokteran. Demi mengetahui biaya masuknya sekitar 400 juta, maka bingunglah si bapak tersebut. Kalau sedemikian tinggi biaya kuliah bisa – bisa anak – anaknya tidak kuliah, begitu keluhnya.
Adapun saya hanya terdiam, lalu berpikir, what about me?
Saya memang belum punya anak. Entah itu merupakan peluang atau kekurangan, i have no idea. Tapi yang pasti itu bukan bagian dari rencana saya dan suami. Tapi bagaimana nanti jika kami diberikan amanah itu oleh Allah? Teman – teman saya yang sekarang punya anak saja bisa begitu panik, apalagi nanti? Sementara dari hari kehari hidup (apalagi di negara tercinta ini) semakin tidak mudah. Himpitan masalah ekonomi menerpa siapa saja. Tapi kemudian saya tersadar bahwa kita, manusia, hanyalah aktor dan aktris yang sedang memainkan peran masing – masing sesuai dengan skenario yang diberikan oleh sang penulis naskah, produser sekaligus sutradara kehidupan yakni Allah SWT. Memang benar kita harus memainkan peran kita semaksimal mungkin, tetapi tetap saja kita hanya pemain yang punya keterbatasan dan setiap saat butuh arahan dari sang sutradara. Kita harus senantiasa ridho menjalani skenario yang diberikan oleh sang penulis naskah kehidupan. Jika kita dikaruniai anak maka itu berarti Allah percaya bahwa kita mampu memainkan peran sebagai orang tua. Allah tidak mungkin membebani umatnya kecuali Dia telah mengukur bahwa itulah batas kemampuan yang kita miliki. Jadi jika kita dititipi anak oleh Allah dengan berbagai konsekuensi biaya yang terlampir, maka kita harus berusaha memenuhinya sampai batas maksimal kemampuan kita, dan jika itu telah kita lakukan, maka kita tinggal bersabar menunggu hasilnya, cepat atau lambat. Maka menghadapi persoalan finansial untuk kebutuhan anak, satu hal yang harus dipertanyakan yaitu: sudahkah kita melakukan yang terbaik untuk mereka? Lalu, apakah yang perlu kita siapkan untuk mereka hanyalah materi semata? Apakah jika kita menyiapkan materi untuk mereka, akan menjamin kemandirian mereka kelak?
Saya lalu ingat novel favorit saya, Laskar Pelangi. Betapa orang yang berasal dari keluarga miskinpun bisa begitu berhasil dan bisa berbuat sesuatu untuk orang lain. Jadi sebenarnya tidak melulu materi yang perlu kita siapkan untuk mereka. Bahwa ada bekal lain yang harus kita tanamkan kepada anak – anak kita, yakni mental untuk senantiasa berharap, bermimpi dan bercita – cita untuk yang terbaik dan berjuang meraih harapan, mimpi dan cita – cita tersebut apapun kondisinya, mental untuk selalu berusaha mandiri dan pantang untuk bergantung pada orang lain. Naifkah cara berpikir saya? Wallahu A’lam. Yang jelas dalam benak saya, kelak jika saya diberikan amanah berupa anak oleh Allah, saya akan berusaha sampai batas maksimal kemampuan saya memberikan bekal materi dan bekal pendidikan moral untuk senantiasa mandiri dan sebisa mungkin bermanfaat untuk sesama (Insya Allah). Ohh………. Inikah makna dibalik rencanamu ya Allah…? Engkau berikan kami waktu untuk bersiap diri sebelum Engkau benar – benar mendatangkan karunia itu, berupa kehadiran seorang anak………. Masukkanlah kami ya Allah kedalam golongan hambamu yang pandai bersyukur.
Kali ini saya pengen nulis tentang dunia perfilman kita cie.............. Saya tertarik memperhatikan antusiasme masyarakat yang begitu tinggi terhadap film AAC yang diangkat dari Novel Habiburrahman itu. Saya sendiri menganggap bahwa film itu telah menghianati novelnya karena begitu bertolak belakang, but anyway.......... saya tidak mau berdebat soal itu. Yang menarik adalah begitu tingginya jumlah penonton yang menyaksikan film ini. Untuk saya hal itu telah membuktikan satu hal yaitu : bahwa masyarakat kita rindu akan hiburan yang positif, inspiratif, elegan dan berkelas, akan tetapi selama ini mereka tidak punya pilihan akan hal itu. Masyarakat kita barangkali sudah capek disuguhi tontonan yang tidak jauh dari hal - hal mesum dan mistik yang diberikan oleh para kapitalis industri hiburan yang mengeksploitasi orang - orang yang lemah akal. Untuk itu kemunculan film - film positif seperti AAC dan yang terbaru Kun Fayakun patut kita apresiasi dengan baik. TAPI.......... hal ini memunculkan pertanyaan buat saya, yaitu apakah tingginya antusiasme masyarakat terhadap film - film "religi" ini berbanding lurus dengan perubahan moral masyarakat kita? Jangan - jangan ini hanya menjadi semacam trend baru (sesuai dengan budaya latahnya Indonesia) yang kemudian tidak memberikan bekas apa – apa pada masyarakat kita. Seperti juga trend melakukan umroh dikalangan artis tetapi tetap saja “mereka” tidak bisa memberikan contoh yang baik untuk masyarakat. Jangan – jangan ini hanya menjadi hiburan dan pelarian atas banyaknya masalah yang terjadi di negeri ini, cie……. Tetapi optimis haruslah senantiasa kita kedepankan. Semoga saja akan semakin banyak kita temukan hiburan – hiburan positif yang inspiratif yang bisa turut membawa perubahan pada bangsa ini.
Sabtu, Mei 03, 2008
TIM PEMANTAU INDEPENDEN VS BUDAYA CHEATING
Bulan April – Mei merupakan bulan yang penting buat orang – orang yang bergerak dalam bidang pendidikan. Mulai dari para pelajar, guru, kepala sekolah, jajaran staf Departemen Pendidikan Nasional dari pusat hingga ke daerah, termasuk orang tua siswa, semuanya sibuk mempersiapkan sebuah momen yang maha penting bagi mereka yakni “UJIAN AKHIR NASIONAL”. Buat sebagian orang, UAN dianggap sebagai sebuah “pemborosan, intimidasi terhadap siswa, pemaksaan pemerataan mutu pendidikan, dll”, tetapi buat pemerintah UAN dianggap sebagai “pemersatu (dilakukan secara nasional), fungsi evaluasi keberhasilan KBM, serta elemen penjaminan mutu pendidikan”. Anyway, lepas dari semua polemik soal UAN ada satu hal menarik tentangnya yaitu tentang Tim Pemantau Independen (TPI). Beberapa tahun terakhir BSNP mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk membiayai kegiatan pemantauan UAN yang unsur – unsurnya berasal dari PTN, Mahasiswa dan staf LPMP. Menarik, sebab biaya yang sebegitu besarnya dikeluarkan hanya untuk memantau, mancatat dan melaporkan keganjilan – keganjilan yang terjadi dalam proses pelaksanaan UAN. Pertanyaannya: “Efektifkah TPI dalam mengurangi kecurangan2 dalam pelaksanaan UAN?”. Kenyataannya : “tetap saja berita tentang kecurangan dalam UAN tidak pernah absen, malah menurut saya semakin banyak jumlah kasusnya dan semakin canggih pula kecurangan yang dilakukan”. Budaya cheating alias nyontek memang telah melegenda dalam masyarakat kita, tidak heran angka korupsi dinegara ini begitu tinggi karena semasa belajar saja sudah korupsi kecil2an apalagi jadi pejabat?. Dari masa kemasa para siswa makin canggih dalam melakukan cheating seiring dengan perkembangan IT dan degradasi moral yang terjadi secara linear dinegeri ini. Hingga sampai pada taraf yang terburuk yaitu cheating dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan wajar bahkan para gurupun ikut menyuburkan budaya ini dengan turut mengirimkan jawaban lewat sms. So…….. kesimpulan saya adanya tim pemantau independen memang membuktikan “BETAPA BOBROKNYA MORAL SEBAGIAN DARI BANGSA INI BAHKAN DARI PARA SISWA HINGGA KE PARA PENGAYOM BANGSA”
NICE TO BE BACK
Thank God that i can posting again. After the very bad things happended to me, it's really nice to write again. Anyway, today is my birthday. I'm 30 years old now. Last night i did reflection about the life that i lived and it ended to a conclution that there are so many things that i have to be grateful. So many episodes that I have experienced, good things......... and bad things...........
All those have made me wiser, more mature and open minded. Thank God that i'm here now after so many struggles in life. I have a permanent job, a very nice husband who loves me and i love, friends that have been with me, my own businness and other great things.
Senin, Maret 03, 2008
Hari ini, seperti hari - hari kantor sebelumnya, saya masih dalam kebingungan yang sama, tidak tahu apa yang mesti dikerjakan. Kalo dipikir - pikir benar juga kata orang kalo yg namanya PNS itu sebenarnya pengangguran terselubung. Kadang - kadang saya bingung ngelihat teman - teman yang lain yang kelihatannya sibuk. Itu emang benar - benar sibuk ato cuman menyibuk - nyibukkan diri? Ah... bodo ah. Emang Gue Pikirin.........? Gitu kalo kata Maia Ratu. Anyway.... akhirnya saya jadi berpikir untuk mendua saja. Maksudnya mencari pekerjaan lain sebagai pemuas dahaga untuk benar - benar merasakan esensi dari "bekerja" yang sebenarnya. Well……… that’s all for now.
Ah ya............. Saya ingat saya pernah niat monulis soal perjalanan hidup saya.
Rasanya perjalanan hidup saya begitu berwarna, dan.......... kalau dulu saya sering menyesalinya, kini setelah "sadar", saya justru mensyukurinya. Hidup yang harus terpisah dengan keluarga, masa kecil dan remaja yang harus dijalani dengan kondidi "prihatin", perjuangan melawan rasa minder dan tidak percaya diri, masa - masa kuliah yang "up and down", semuanya telah memperkaya batin saya. Ternyata....dibalik kerahasiaan takdir Allah, tersimpan sebuah keindahan. Jika Allah tidak menutup takdirnya, dan seorang anak manusia bisa membaca jelas apa yang akan terjadi padanya, tentu kehidupan manusia tidak akan menarik layaknya sebuah film yang kita tonton tetapi kita sudah tahu jalan ceritanya.
Seperti juga dengan kisah romansa dalam kehidupan saya. Orang yang menjadi suami saya ternyata sangat dekat dengan lingkungan kuliah saya dulu, but we didn't know each other. Sampaipun kami bertemu dalam sebuah tempat kerja yang sama kami masih tidak saling memperhatikan. I really had no idea that he would be my husband. And now i'm very happy karena Allah telah memilihkan saya seorang suami yang terbaik untuk saya. Ternyata misteri dibalik takdir Allah adalah indah adanya........
I wanna reposting with other idea, but this time i wanna do it in english.
Last night i watched a movie at HBO, called "North Country". I ignored it first because i thought it wasn't good. But i was wrong since the story was great that made me shed tears. Anyway... it's a movie based on true story about a strong and tough single parent woman, Josey Aimes (charlize Theron) who have to work at a mine to support her life and to feed her daughter and son. working in a mine is a tough job and it kind of suitable only for man. So only few women work there. Joey and her female co-workers always treated bad by their male co - worker. they always get sexual harrasment in their working surrounding. This is not a tolleratable thing for Josey that she made Class Action (a sue law by someone or a group of people who have same problem with a certain person or institution) to her bos.
The story was very touch with the rape that Josey experienced and did by her highschool teacher, picture of sexual harrasment that did by almost all of the male workers, and with the struggle of a woman to keep her family doing fine and her struggle to get a justice.
This movie leave a lesson for me, that is we have to struggle no matter what it takes to get what we assume as a justice
Hidup manusia memang tidak pernah sepi dari masalah. Dan jika dia datang, dia tidak pandang hari, waktu ataupun banyak tidaknya masalah lain yang kita hadapi. Just like what happen to me this morning. Masalah selalu saja datang even in early morning when i've got lots of to do. Masalah keluarga, masalah pribadi, masalah kantor, dan banyak lagi masalah lainnya. Saya berusaha memetakan setiap masalah yang terjadi and try to ignore masalah - masalah yang sepele, but it's kind of little difficult for me, yet i'm in proces of it. Masalah kantor adalah yang paling unik buat saya. I have to deal with it every day. Setiap hari perasaan saya up and down, menghadapi teman - teman kantor yang kadang baik kadang menyebalkan, melihat kecurangan, ketidakjelasan program, and many other bad things.But anyway.....show must go on.
Saya ingat kutipan kalimat dari buku "La Tahzan" yakni : "Jangan meletakkan bola dunia di atas kepala. Biarkan semua peristiwa itu terjadi, dan jangan disimpan didalam usus". Dunia dan segala isinya pada dasarnya adalah hina kecuali jika berjalan di jalan Allah SWT, sehingga sangat tidak layak kita bersedih dan tertekan hanya karena dunia dan isinya. Yang penting buat saya adalah saya masih punya Allah tempat saya mengadu dan mohon pertolongan sebab Dia adalah Sang Maha segala- segalanya, saya masih punya suami yang saya cintai and i'm sure he loves me too, dan saya masih punya keluarga. So.......... i will try to be happy always.
Thanx God, i can posting again. Soalnya beberapa hari kemarin sibuk dengan program "Maha Kompleks" ISO, yang ditargetkan sertifikatnya pada bulan Mei.
Apa yang saya pengen tulis ini sebenarnya sudah ada dibenak saya sejak beberapa hari lalu tapi baru bisa nulis hari ini.
Tersebutlah seorang siswa magang di LPMP Gorontalo yang "berbeda". Namanya "Muhajir" dengan panggilan "ajir". Saya sebut dia "berbeda" karena memang berbeda di beberapa hal dari orang lain. Pertama dia berbeda karena dia cacat (saya tidak tahu cacat apa namanya). Ketidaksempurnaannya ada pada cara dia berjalan dan berbicara. Tetapi sepertinya keterbatasannya tersebut tidak menghalangi dia untuk "berbuat", sama seperti kebanyakan orang. Kedua, dia berbeda dari mainstream orang Gorontalo pada umumnya yang menurut saya enggan berbuat (kalo tidak bisa disebut malas). Sangat menarik menelusuri kisah hidup anak ini. Menurut cerita ajir sendiri, ibunya meninggal dunia ketika dia baru berusia beberapa bulan. "Keterbatasannya" adalah takdir yang harus dia terima sejak lahir. Setelah ibunya meninggal, dia diasuh oleh seorang anak yang berusia 10 thn (kalo saya tidak salah). Nah..... yang menarik adalah soal keinginannya untuk sekolah. Dia tetap sekolah seperti kebanyakan anak lainnya, tetapi ketika menginjak masa SMA, bapaknya melarang dia untuk tetap sekolah, (saya juga tidak tahu alasannya apa, tapi sangat mungkin larangan itu ada hubungannya dengan "keterbatasannya"). Sementara untuk masuk SLB "Bone Bolango" tidak mungkin karena dia satu - satunya siswa yang mendaftar. Akhirnya dia memilih untuk masuk SMK Suwawa walaupun tanpa ijin bapaknya. Dia berusaha untuk bertemu langsung dengan kepsek untuk meyakinkan bahwa dia benar - benar ingin sekolah dan berharap dapat diterima. Akhirnya dia diterima di SMK Suwawa. Sampai disini, saya benar - benar takjub mendengar ceritanya. Bagaimana tidak, disaat sebagian murid sekolahan yang tidak jelas juntrungannya, sering bolos, tawuran, hedon luar biasa, ajir, dengan kesederhanaanya mampu menyakinkan orang bahwa keinginannya untuk belajar sangat kuat, dan tidak satupun orang yang berhak mengehentikan hal itu.
Syahdan.... ajir memilih jurusan komputer. Menurut dia, komputer sangat menarik minatnya. Maka besar keinginan dia untuk punya PC. Untuk mendapatkan keingginannya, ajir membuat proposal untuk Pak Gubernur (Pak Fadel), yang berisi permintaan bantuan dana untuk membeli komputer. Dia memaksa untuk bertemu langsung dengan Pak Gub dan akhirnya bisa bertemu langsung dengan Pak Fadel. Waktu ditanya apa keperluannya, ajir dengan polos menjawab "pengen punya komputer", maka mengalirlah cek sebesar Rp. 5 juta dan langsung dia pergunakan untuk membeli "barang idamannya" itu. Waktu itu saya dengan maksud bercanda, bertanya "kenapa tidak sekalian minta HP?", dan dia bilang bahwa HP tidak terlalu penting untuk dia. Satu - satunya barang yang dia inginkan hanya PC.
Satu lagi hal menarik tentang ajir, yaitu keinginannya untuk membuka usaha. Waktu saya tanya apa rencananya setelah lulus, dia jawab "kalo bukan melanjutkan ke kuliah, saya mau buka usaha sendiri". Saya tanya lagi "usaha apa?", dia jawab, "usaha pengetikan/rental komputer". Dia tambahkan penjelasannya bahwa usaha itu pengennya dia jalankan bersama adiknya, dan langkah pertama menurut dia adalah mencari tempat yang bagus. Amazing................................. Sodara2 saya saja belum tentu punya visi masa depan sejelas itu. Buat saya bukan masalah apa dan bagaimana visinya. Pun terlepas dari benar tidaknya cerita dan kompetensi ajir, ada hal yang sangat menarik tentang bagaimana gambalangnya rencana masa depannya yang dia rancang sendiri, kuatnya tekad untuk mandiri, tidak bergantung pada orang lain, dan tetap menjaga mimpi – mimpinya agar dia bisa punya energi untuk menggapainya. Apalagi kita bicara tentang orang yang punya “keterbatasan”. Satu lagi yang menarik, tidak semua orang punya keinginan untuk berusaha lewat jalan “entrepreneurship”. Tapi ajir justru memilih hal itu untuk masa depannya nanti. Masya Allah……………. Allah memang maha adil. KeadilanNya tidak pantas untuk dipertanyakan. Semua yang telah tertulis dalam lauhul mahfuz adalah presisi adanya, baik untuk semua hambaNya. Keterbatasan yang dimiliki ajir, dimata saya justru menjadi kekuatannya. Jalan hidup, keinginan serta cita – citanya akan terdengar biasa – biasa saja jika datangnya dari orang lain yang normal – normal saja. Tetapi menjadi sungguh luar biasa ketika datangnya dari seorang ”ajir” yang punya banyak ”keterbatasan”. Semoga kita bisa mengambil banyak pelajaran dari salah satu karya Allah SWT ini. WALLAHU A’LAM
Senin, Februari 18, 2008
New Day
Hari ini sebagian staf LPMP Gorontalo pindahan termasuk saya. Jadinya sibuk bersih - bersih. Ngga' tau mesti senang atau tidak, dapat gedung baru, meja dan kursi baru, dan semua fasilitas yang brand new. Tapi...........apapun itu, disyukuri sajalah. Hari ini juga hari yang berat buat saya, cause my beloved husband berangkat lagi untuk memulai semester 2 kuliah s2nya. I've already missed you honey.........take care........
Seksi PMS dan FSDP LPMP Gorontalo tahun ini punya program kerja seputar Sekolah Bertaraf Internasional atau yang sering disingkat SBI. Program Dinas Pendidikan Nasional ini sedang bergaung dimana – mana. Program ini memang masih menggunakan embel – embel “rintisan didepannya”, tetapi pemerintah terlihat serius menggarapnya (atau serius menghitung jumlah yang bisa dikorupsi?) sampai- sampai menyediakan anggaran yang cukup besar yang dikucurkan untuk dana BlockGrant SBI. Tetapi apa dan bagaimana SBI itu sebenarnya justru tidak banyak diketahui. Sesungguhnya kategorisekolah bisa dibagi menjadi :
SEKOLAH KATEGORI STANDAR
SEKOLAH KATEGORI MANDIRI
SEKOLAH BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL
SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL
SEKOLAH YG DISELENGGARAKAN OLEH PERWAKILAN NEGARA ASING
LEMBAGA PENDIDIKAN ASING DI NKRI
Adapun, kriteria sekolah yang bisa mendapatkan predikat sebagai SBI haruslah sekolah yang memilik basis IT yang kuat serta menerapkan sistem bilingual dalam proses belajar mengajar, disamping memiliki sarana dan prasarana yang sesuai standar.Ada 8 standar yang harus dipenuhi yang mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. Sederhananya, untuk mendapatkan predikat SBI, maka KBM diajarkan dalam bahasa inggris sehingga baik siswa maupun guru harus memiliki kompetensi dalam berbahasa inggris. Maka sertifikat TOEFL dengan nilai tertentu bagi para guru kini menjadi prasyarat. Disamping itu basic IT yang juga menjadi prasyarat, seperti penggunaan electronic media sebagai alat bantu pengajaran dan pembuatan materi pengajaran dalam satu atau lebih format elektronik media. Lulusan yang diharapkan dari sebuah sekolah bertaraf internasional adalah lulusan yang dapat bersaing baik secara nasional maupun secara internasional.
Maka...............banyak konsekuensi yang timbul dari adanya standar2 tersebut. Salah satunya adalah biaya sekolah di SBI yang tentunya lebih mahal daripada di sekolah reguler. Impact lainnya adalah standar masuk yang lebih tinggi dibanding dengan sekolah reguler. Ujung – ujungnya, SBI menjadi semacam sekolah eksklusif yang tidak bisa menyentuh semua lapisan masyarakat.
Akan tetapi ada hal – hal lain yang perlu dikaji dan dipertimbangkan lagi dalam penerapan program SBI ini. Masalah yang banyak dihadapi oleh para guru di SBI adalah penguasaan bahasa Inggris. Banyak guru yang sangat kompeten dalam bidangnya terutama science, tetapi kesulitan dalam berbahasa Inggris. Pertanyaan pertama adalah manakah yang lebih baik, membekali para guru science tersebut dengan bahasa Inggris, atau membekali guru – guru yang berbahasa Inggris secara aktif dengan ilmu – ilmu science? Tentu saja yang ideal adalah guru science yang berbahasa Inggris secara aktif, tetapi ini sulit didapat. Lebih dari itu perlu dipertanyakan pula apakah efektif untuk para siswa mempelajari science dalam pengantar bahasa Inggris ketimbang bahasa ibunya? Bukankah untuk bisa bersaing secara internasional kualitas akan kompetensi kita lebih dibutuhkan ketimbang penggunaan bahasa? Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional memang sangat penting untuk mempercepat kemajuan kita dan bisa leluasa dalam menembus dunia kini yang seakan tanpa batas. Akan tetapi bahasa hanyalah penunjang yang akan melengkapi semua kompetensi yang kita miliki. Tidakkah mata pelajaran bahasa Inggris cukup untuk anak didik untuk menguasai bahasa Inggris? Barangkali hal yang perlu ditinjau kembali adalah kurikulum pelajaran bahasa Inggris kita yang tidak bisa memaksimalkan kemampuan anak didik dalam berbahasa Inggris secara aktif. Jangan sampai semua terkesan dipaksa hanya untuk mencapai keinginan untuk meng ”go internasional” kan sekolah – sekolah kita agar lulusannya bisa terterima di perguruan tinggi negeri maupun luar negeri. Pertanyaan kedua adalah berapa persen dari lulusan SMU kita yang akan melanjutkan sekolahnya keperguruan tinggi luarnegeri? Untuk daerah Jakarta, mungkin bisa dihitung, tapi bagaiman dengan luar Jakarta?, bisakah dihitung dengan jari? Lagipula apakah perguruan tinggi kita belum layak?
Lalu tidakkah program SBI bisa memicu kesenjangan antar sekolah? Pemerintah tentu akan meng”anak emas”kan SBI dibanding sekolah – sekolah reguler. Hal ini menjadi semacam privatisasi sekolah negeri. Tidakkah dana yang begitu banyak dikucurkan untuk ”beberapa” SBI, akan lebih efektif digunakan secara merata untuk semua sekolah terutama untuk sekolah – sekolah dipedalaman? Masih banyak sekolah – sekolah yang jangankan menggunakan IT, untuk mengaplikasikan komputer saja mereka tidak mampu. Masih banyak sekolah – sekolah yang jangankan memiliki sapras yang lengkap, gedung sekolahpun tidak layak disebut sekolah. Lebih menyedihkan lagi, banyak sekolah yang jangankan mengharapkan guru dengan sertifikat TOEFL memadai, jumlah gurupun tidak mencukupi dibanding jumlah siswanya.
Ada baiknya mungkin program ini dipikirkan kembali secara bijak.
Akhirnya saya nyampe rumah lagi setelah sebulan lebih berkelana di tanah pasundan (cie bahasanya.....). Hari pertama masuk kantor lagi rasanya kagok juga. Have no clue what 2 do, soalnya awal tahun. Akhirnya setelah nyari informasi seputar program kerja 2008 saya punya gambaran apa yang harus dikerjakan dan harus mulai dari mana. Rasanya punya semangat baru lagi untuk kerja setelah sebulan lebih liburan. Apalagi setelah membaca buku "La Tahzan", yang sangat inspiratif. "Hari ini adalah milikmu", begitu salah satu kalimat dalam buku itu. So.... berbuatlah yang terbaik pada hari ini sebab besok itu masih gaib dan masih di tangan Allah SWT, dan belum tentu menjadi milikmu.
Hari ini saya begitu bersemangat untuk nulis meskipun saya ragu apa ada nanti yang baca tulisan saya ini.......... Tapi keinginan untuk nulis ini begitu kuat setelah membaca buku tetralogi Laskar Pelanginya Andrea Hirata. Buku ini begitu mempesona dengan permainan kata - katanya, begitu menyentuh dengan kisah tragisnya, begitu inspiratif dengan kekuatan cerita dan penokohannya serta pesan - pesan moralnya. Buku ini bagai oase ditengah kegersangan mentalitas masyarakat pendidikan terhadap berbagai permasalahan pendidikan. Bahwa ternyata kegetiran hidup bukan untuk ditangisi dan dikeluhkan dengan khusuknya dan kemudian dijadikan alasan untuk tidak berbuat dengan bersembunyi dibalik romansa cerita "hidup melarat" yang terus menerus disenandungkan. Bahwa ternyata kemiskinan dan kemelaratan tidak harus berbanding lurus dengan kebodohan, keterbelakangan dan sikap pesimis. Saya pikir buku ini layak menjadi "the must read book" bagi "masyarakat pendidikan" terutama bagi petinggi - petinggi di Depdiknas, Pegawai dan staf Diknas Daerah dan terutama bagi seluruh staf dan pegawai LPMP se Indonesia. Betapa tidak, setelah membaca buku ini saya kembali mempertanyakan komitmen saya terhadap pekerjaan saya (di LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN) yang seharusnya sangat mulia ini. Saya pikir saya harus banyak belajar dari tokoh Ibu Muslimah yang ada dalam novel tersebut yang begitu ikhlas menjalani profesinya sebagai guru didesa terpencil tanpa digaji bertahun - tahun, sedangkan saya begitu jengkel ketika harus turun lapangan ke daerah dengan hanya mendapat honor yang kecil, itupun hanya untuk menyebarkan instrumen keguru - guru. Ibu Muslimah dan kesepuluh anggota laskar pelangi layak untuk dijadikan cermin terhadap sikap kerja kita yang kadang - kadang sudah seperti kata pepatah "mati segan, hidup tak mau". Ternyata jika kita menjalani hidup dengan cinta, cinta terhadap sang Khalik, cinta terhadap sesama dan cinta terhadap kebaikan, kita akan mampu menjalani hidup yang optimis, hidup yang idealis dan mampu konsisten dengan idealisme tersebut, hidup yang bermanfaat untuk orang lain dan pada akhirnya akan menjadikan kita manusia seutuhnya yang memiliki integritas dan kualitas yang tinggi, dan bukan manusia yang hanya memiliki uang dan kedudukan yang tinggi (dua hal yang sangat temporer dalam hidup).
Haahhh masih pengen nulis tapi ngantuk.. Well .........see you
Thank God akhirnya saya bisa juga posting lagi soalnya 10 hari kemaren (dijakarta dan bandung) ngga pernah sempat untuk posting, maklumlah.....lagi menikmati bulan madu kesekian kalinya dengan suami tercinta :-)
Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, tujuan saya membuat blog ini semata - mata untuk berbagi segala ide, prinsip, idealisme, uneg- uneg, pertanyaan dan semua pikiran - pikiran saya dengan orang lain, terutama dengan teman - teman saya di LPMP Gorontalo. Besar harapan saya blog saya ini akan diapresiasi oleh teman - teman LPMP Gorontalo sebagai sebuah media yang mudah - mudahan bisa menginspirasi, mengalihkan sejenak kekalutan pikiran dari masalah dan gosip - gosip kantor.
Sebenarnya tujuan saya membuat blog ini karena ingin mencari wadah untuk menuliskan pikiran - pikiran dan ide - ide saya tentang isu, fenomena, masalah sosial (especially in Gorontalo, my hometown) dan khususnya untuk mewakili pikiran dan pendapat saya seputar masalah kantor. Masalah kantor buat saya rasanya terlalu pelik (biasa.......... sering terjadi di kantor - kantor PNS cause I'm a PNS). Ambisi yang tidak terkontrol entah untuk uang, jabatan, perebutan proyek, aktualisasi diri, adu pintar, dan banyak lagi yang bikin saya tidak bisa menikmati pekerjaan saya yang harusnya menyenangkan ini. Entah bagaimana mengurai masalah - masalah yang sudah seperti benang kusut itu, tapi yang pasti semua masalah tersebut harus dicarikan solusinya, paling tidak solusi untuk saya pribadi (bagaimana mengambil sikap) agar saya tidak makin terbebani dengan masalah kantor. I'm sleepy.
I'm still now in Bogor, giving companion to my beloved husband doing the same thing every day, but it's good I'm a little bored, but i'm good This is my first posting, just wanna try it hopefully it works
It's been a very long vacation for me, here in Bogor I've been to everywhere Wanna go to Bandung but i'm scare to go alone So.. just wait until my husband finish his classes And we will go for A REAL...........VACATION Insya Allah