Alhamdulillah, I’m here again, in my lovely hometown. Actually I’m kind of sad cause I’m away again from my husband. We’re separated again. But that’s ok… cause I’m fine and I think I can handle all those loneliness things………
Sejak berada di negeri Kanguru Australia, hingga kemarin seminggu di Bogor dan akhirnya sekarang di kantor, saya masih merasa sangat termotivasi untuk berbuat sesuatu, menyangkut pekerjaan saya, to make a positive different (even just small different). Tapi saya benar - benar bingung harus mulai dari mana. Karena kebingungan itulah maka saya putuskan saja untuk memulainya dari menulis lagi di blog ini, hitung - hitung come
Back setelah lama tidak posting.
saya mulai saja dengan rendezvous mengulang kembali masa - masa di australia, sambil ngeliat lagi foto - foto selama disana. Meskipun ada kejadian - kejadian yang membuat perasaan tidak nyaman karena selisih paham dll, but I think I miss all of my ALAF friends. Kebersamaan selama 7 minggu, somehow, telah merangkai berbagai kenangan yang pasti akan saya simpan dalam satu ruang khusus dalam memory saya (mudah - mudahan saya tidak akan lupa karena teman- teman memilih saya sebagai yang paling "pelupa")
he he he he
Dan akhirnya saya ingat tulisan saya waktu pertama kali nyampe di
Melbourne, here it is ……………………………….
Aussie diary
08.30Akhirnya setelah perjalanan yang sangat melelahkan selama ± 8 jam dari Jakarta, kami tiba juga di bandara Tullamarine Melbourne. It’s a desperate moment karena ini adalah pengalaman pertama saya ke Australia, so here I am Melbourne, just great to be here. Kami langsung disambut oleh cuaca yang sangat dingin (at least for me) dan antrian pemeriksaan yang sangat melelahkan. Selama ± 1,5 jam kami berdiri menunggu dalam barisan antrian untuk pemeriksaan barang. Orang – orang disini rupanya ramah juga meskipun ada juga yangmemandang saya dengan pandangan aneh (mungkin karena saya berjilbab). Petugas pemeriksa itu memanggil kami dengan sebutan sister dan brother dan mengucapkan ‘assalamualaikum’. Setelah itu kami langsung ke Quest apartment yang berada di 43 Londsdale St, dengan ‘Murray Bus’. Dan dimulailah aktifitas yang menandakan bahwa kami datang dari ‘kampung’, tapi tetap saja menyenangkan untuk dilakukan yakni FOTO – FOTO.
Dan sampailah kami di Quest Apartment dan langsung disambut oleh resepsionis yang bicara inggris tapi dengan aksen India (I think). Kami diberi kamar masing – masing satu tapi akhirnya saya sekamar berdua dengan mba Fathonah (LPMP Kalsel). Masing – masing kamar punya 1 master bed, lemari pakaian, Toilet, dapur dan ruang tamu. It’s lovely karena kamar saya langsung menghadap ke jalan Londsdale. Saya langsung masak indomie karena lapar euy.
13.00 Kami langsung jalan – jalan (sekali orang kampung tetap orang kampung), cari internet karena diapartemen mahal. Kami main sebentar diinternet café (but I couldn’t catch my husband) trus jalan lagi dan kami singgah di sebuah took cellular dan membeli nomor baru ‘yes optus’, dan akhirnya kami belanja di 7 eleven (supermarket kecil sekelas alfamart) tapi cuman belanja telur sama madu. Everything is expensive euy, tapi kami sangat berharap akan janjinya pak Muce bahwa keperluan hidup selama disini (terutama makan) akan ditanggung oleh pihak ACER.
16.30 Kami balik lagi ke apartemen. Saya langsung mencoba menemukan arah kiblat dengan google earth dan akhirnya…. Tudda………. Saya berhasil menemukan arah kiblat, dan langsung sholat. Setelah itu kami hanyalah orang – orang yang sangat kecapean dan langsung terkapar di tempat tidur masing – masing.
Malam ini saya baru saja abis nonton film dengan suami tercinta. Judul filmnyapun cukup menyeramkan SEX AND THE CITY. Yup….. kami baru saja menyaksikan versi layer lebar dari film seri HBO tentang kisah keempat gadis metropolitan dengan kisah cintanya masing – masing.
Ada keraguan sebenarnya ketika memutuskan untuk nonton film ini. Masalahnya saya sedang dalam masa “upgraiding ketakwaan” saya. Mulai dari memperbaiki sholat, memperbanyak zikir, memperbanyak sedekah, ikut dalam kelompok kajian dan memperbanyak membaca terutama membaca buku – buku islami. Yang terakhir ini banyak memberikan nilai dan muatan positif pada saya, terutama karena saat ini saya sedang menyelesaikan membaca bukunya ustadz Yusuf Mansur yang judulnya “WISATA HATI”. Buku ini banyak mengupas tentang makna hidup yang hakiki, hidup untuk saling berbagi, dan hidup untuk kehidupan selanjutnya yakni akhirat. Inilah alasan keraguan saya untuk nonton film Hollywood ini. Saya merasa melakukan hal yang sia – sia. Terlebih film tersebut banyak mengumbar hidup yang glamour, benar – benar mengiklankan kemewahan hidup, hidup yang berlebihan. Tapi keraguan saya ternyata kalah juga oleh keinginan saya untuk tahu jalan cerita film ini karena memang saya mengikuti film serinya. Akhirnya saya pulang dan berdoa “Ya Allah yang Maha Pengampun, ampuni saya jika ini termasuk perbuatan sia – sia. Kuatkanlah hamba untuk selalu istiqomah dijalanMu Ya Allah…….”
it's nice to post again. Akhirnya saya disini lagi(bogor), menemani suami tercinta. Senang bisa kembali kekota hujan ini lagi meskipun harus berdesak - desakan di kamar kost yang sempit. Dan yang lebih penting lagi saya mendaftar lagi untuk keliah di program pasca sarjana. Hmmm..... kembali kebangku kuliah. Terasa agak kikuk juga waktu masuk kampus lagi (meski hanya untuk mendaftar), apalagi ini adalah salah satu perguruan tinggi terbesar di negeri ini (IPB). Sudah enam tahun lepas dari perkuliahan, rasanya butuh penyesuaian lagi untuk masuk kampus lagi. Setidaknya persiapan mental karena kuliah S2 orientasinya ke tugas - tugas. So...... akan banyak tugas nantinya. Ya Allah........ mudahkanlah hambamu ini menjalani titian pencarian ilmu...... Amin.
Today is just ordinary day for me. Doing the same thing, thinking the same thing, boring, boring and boring. Tapi akhirnya saya mendapatkan inspirasi juga dari hasil percakapan dengan beberapa teman kantor. Seorang teman mencurahkan masalah keuangannya. Menurut dia, gaji perbulan yang dia terima, ditambah gaji istrinya, masih tidak cukup untuk kebutuhan sehari - hari. Itupun masih dalam kondisi dimana anak-anaknya masih kecil dan belum sekolah. Maka meluncurlah dari mulutnya rencana jangka panjang hidupnya kelak ketika anak - anaknya dewasa. Menurutnya, kita harus punya persiapan finansial yang cukup untuk kebutuhan anak - anak saat dewasa nanti. Mulai dari biaya sekolah, biaya menikah, biaya penunjang sebelum mereka mandiri, dll. Ada lagi teman lain yang punya masalah yang hampir sama. Ceritanya beliau punya anak yang sudah saatnya untuk kuliah, dan sianak punya obsesi untuk kuliah di fakultas kedokteran. Demi mengetahui biaya masuknya sekitar 400 juta, maka bingunglah si bapak tersebut. Kalau sedemikian tinggi biaya kuliah bisa – bisa anak – anaknya tidak kuliah, begitu keluhnya.
Adapun saya hanya terdiam, lalu berpikir, what about me?
Saya memang belum punya anak. Entah itu merupakan peluang atau kekurangan, i have no idea. Tapi yang pasti itu bukan bagian dari rencana saya dan suami. Tapi bagaimana nanti jika kami diberikan amanah itu oleh Allah? Teman – teman saya yang sekarang punya anak saja bisa begitu panik, apalagi nanti? Sementara dari hari kehari hidup (apalagi di negara tercinta ini) semakin tidak mudah. Himpitan masalah ekonomi menerpa siapa saja. Tapi kemudian saya tersadar bahwa kita, manusia, hanyalah aktor dan aktris yang sedang memainkan peran masing – masing sesuai dengan skenario yang diberikan oleh sang penulis naskah, produser sekaligus sutradara kehidupan yakni Allah SWT. Memang benar kita harus memainkan peran kita semaksimal mungkin, tetapi tetap saja kita hanya pemain yang punya keterbatasan dan setiap saat butuh arahan dari sang sutradara. Kita harus senantiasa ridho menjalani skenario yang diberikan oleh sang penulis naskah kehidupan. Jika kita dikaruniai anak maka itu berarti Allah percaya bahwa kita mampu memainkan peran sebagai orang tua. Allah tidak mungkin membebani umatnya kecuali Dia telah mengukur bahwa itulah batas kemampuan yang kita miliki. Jadi jika kita dititipi anak oleh Allah dengan berbagai konsekuensi biaya yang terlampir, maka kita harus berusaha memenuhinya sampai batas maksimal kemampuan kita, dan jika itu telah kita lakukan, maka kita tinggal bersabar menunggu hasilnya, cepat atau lambat. Maka menghadapi persoalan finansial untuk kebutuhan anak, satu hal yang harus dipertanyakan yaitu: sudahkah kita melakukan yang terbaik untuk mereka? Lalu, apakah yang perlu kita siapkan untuk mereka hanyalah materi semata? Apakah jika kita menyiapkan materi untuk mereka, akan menjamin kemandirian mereka kelak?
Saya lalu ingat novel favorit saya, Laskar Pelangi. Betapa orang yang berasal dari keluarga miskinpun bisa begitu berhasil dan bisa berbuat sesuatu untuk orang lain. Jadi sebenarnya tidak melulu materi yang perlu kita siapkan untuk mereka. Bahwa ada bekal lain yang harus kita tanamkan kepada anak – anak kita, yakni mental untuk senantiasa berharap, bermimpi dan bercita – cita untuk yang terbaik dan berjuang meraih harapan, mimpi dan cita – cita tersebut apapun kondisinya, mental untuk selalu berusaha mandiri dan pantang untuk bergantung pada orang lain. Naifkah cara berpikir saya? Wallahu A’lam. Yang jelas dalam benak saya, kelak jika saya diberikan amanah berupa anak oleh Allah, saya akan berusaha sampai batas maksimal kemampuan saya memberikan bekal materi dan bekal pendidikan moral untuk senantiasa mandiri dan sebisa mungkin bermanfaat untuk sesama (Insya Allah). Ohh………. Inikah makna dibalik rencanamu ya Allah…? Engkau berikan kami waktu untuk bersiap diri sebelum Engkau benar – benar mendatangkan karunia itu, berupa kehadiran seorang anak………. Masukkanlah kami ya Allah kedalam golongan hambamu yang pandai bersyukur.
Kali ini saya pengen nulis tentang dunia perfilman kita cie.............. Saya tertarik memperhatikan antusiasme masyarakat yang begitu tinggi terhadap film AAC yang diangkat dari Novel Habiburrahman itu. Saya sendiri menganggap bahwa film itu telah menghianati novelnya karena begitu bertolak belakang, but anyway.......... saya tidak mau berdebat soal itu. Yang menarik adalah begitu tingginya jumlah penonton yang menyaksikan film ini. Untuk saya hal itu telah membuktikan satu hal yaitu : bahwa masyarakat kita rindu akan hiburan yang positif, inspiratif, elegan dan berkelas, akan tetapi selama ini mereka tidak punya pilihan akan hal itu. Masyarakat kita barangkali sudah capek disuguhi tontonan yang tidak jauh dari hal - hal mesum dan mistik yang diberikan oleh para kapitalis industri hiburan yang mengeksploitasi orang - orang yang lemah akal. Untuk itu kemunculan film - film positif seperti AAC dan yang terbaru Kun Fayakun patut kita apresiasi dengan baik. TAPI.......... hal ini memunculkan pertanyaan buat saya, yaitu apakah tingginya antusiasme masyarakat terhadap film - film "religi" ini berbanding lurus dengan perubahan moral masyarakat kita? Jangan - jangan ini hanya menjadi semacam trend baru (sesuai dengan budaya latahnya Indonesia) yang kemudian tidak memberikan bekas apa – apa pada masyarakat kita. Seperti juga trend melakukan umroh dikalangan artis tetapi tetap saja “mereka” tidak bisa memberikan contoh yang baik untuk masyarakat. Jangan – jangan ini hanya menjadi hiburan dan pelarian atas banyaknya masalah yang terjadi di negeri ini, cie……. Tetapi optimis haruslah senantiasa kita kedepankan. Semoga saja akan semakin banyak kita temukan hiburan – hiburan positif yang inspiratif yang bisa turut membawa perubahan pada bangsa ini.
Bulan April – Mei merupakan bulan yang penting buat orang – orang yang bergerak dalam bidang pendidikan. Mulai dari para pelajar, guru, kepala sekolah, jajaran staf Departemen Pendidikan Nasional dari pusat hingga ke daerah, termasuk orang tua siswa, semuanya sibuk mempersiapkan sebuah momen yang maha penting bagi mereka yakni “UJIAN AKHIR NASIONAL”. Buat sebagian orang, UAN dianggap sebagai sebuah “pemborosan, intimidasi terhadap siswa, pemaksaan pemerataan mutu pendidikan, dll”, tetapi buat pemerintah UAN dianggap sebagai “pemersatu (dilakukan secara nasional), fungsi evaluasi keberhasilan KBM, serta elemen penjaminan mutu pendidikan”. Anyway, lepas dari semua polemik soal UAN ada satu hal menarik tentangnya yaitu tentang Tim Pemantau Independen (TPI). Beberapa tahun terakhir BSNP mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk membiayai kegiatan pemantauan UAN yang unsur – unsurnya berasal dari PTN, Mahasiswa dan staf LPMP. Menarik, sebab biaya yang sebegitu besarnya dikeluarkan hanya untuk memantau, mancatat dan melaporkan keganjilan – keganjilan yang terjadi dalam proses pelaksanaan UAN. Pertanyaannya: “Efektifkah TPI dalam mengurangi kecurangan2 dalam pelaksanaan UAN?”. Kenyataannya : “tetap saja berita tentang kecurangan dalam UAN tidak pernah absen, malah menurut saya semakin banyak jumlah kasusnya dan semakin canggih pula kecurangan yang dilakukan”. Budaya cheating alias nyontek memang telah melegenda dalam masyarakat kita, tidak heran angka korupsi dinegara ini begitu tinggi karena semasa belajar saja sudah korupsi kecil2an apalagi jadi pejabat?. Dari masa kemasa para siswa makin canggih dalam melakukan cheating seiring dengan perkembangan IT dan degradasi moral yang terjadi secara linear dinegeri ini. Hingga sampai pada taraf yang terburuk yaitu cheating dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan wajar bahkan para gurupun ikut menyuburkan budaya ini dengan turut mengirimkan jawaban lewat sms. So…….. kesimpulan saya adanya tim pemantau independen memang membuktikan “BETAPA BOBROKNYA MORAL SEBAGIAN DARI BANGSA INI BAHKAN DARI PARA SISWA HINGGA KE PARA PENGAYOM BANGSA”
Thank God that i can posting again. After the very bad things happended to me, it's really nice to write again. Anyway, today is my birthday. I'm 30 years old now. Last night i did reflection about the life that i lived and it ended to a conclution that there are so many things that i have to be grateful. So many episodes that I have experienced, good things......... and bad things...........
All those have made me wiser, more mature and open minded. Thank God that i'm here now after so many struggles in life. I have a permanent job, a very nice husband who loves me and i love, friends that have been with me, my own businness and other great things.